Bulan Januari 2008, bangsa Indonesia
kehilangan satu tokoh penting, seorang negarawan, seorang mantan
presiden, juga seorang bapak bangsa yang berhasil membawa bangsa ini
menjadi bangsa yang berswasembada beras. Banyak program-program pada
masa pemerintahan Pak Harto yang difokuskan pada bidang pertanian dalam,
tidak melulu beras, mulai pengembangan peternakan, perikanan,
perkebunan, bahkan sampai kehutanan dengan program pekan penghijauannya.
Luasnya bidang pertanian yang diperhatikan Pak Harto, tak membuat citra
pertanian lantas hanya sekedar retorika belaka, Disamping
mencapai swasembada, untuk menjamin keberlangsungan swasembada beras di
Indonesia, pada masa pemerintahan Pak Harto juga dikembangkan institusi-institusi
yang mendukung pertanian, mulai dari koperasi yang melayani kebutuhan
pokok petani dalam usaha agribisnisnya, Bulog yang menampung hasil dari
petani, institusi penelitian seperti BPTP yang berkembang untuk
menghasilkan inovasi untuk pengembangan pertanian yang pada masa suharto
salah satu produknya yang cukup terkenal adalah Varietas Unggul Tahan
Wereng (VUTW), hingga berbagai bentuk kerjasama antar lembaga yang
terkait penyediaan sarana prasaran yang mendukung pertanian seperti
irigasi dan pembangunan pabrik pupuk.
Kini,
Pak Harto sudah kembali ke Haribaan Ilahi, walau sempat dicerca,
dihujat diakhir masa jabatannya, akan tetapi kita juga turut mewarisi
apa yang pernah dilakukan oleh Pak Harto, mulai dari infrastruktur yang
kita gunakan sampai saat ini yang kebanyakan dibangun pada masa Pak
Harto, pendidikan murah yang pernah kita nikmati pada masa lalu, sampai
pangan yang melimpah yang pernah kita nikmati, kita sadari atau tidak
itu telah mengalir ke dalam darah kita turut menjadikan tubuh kita tetap
ada sampai saat ini. Walau Pak Harto sudah tidak ada, banyak hal
postitif yang dapat kita pelajari, mulai dari keterpaduan kebijakan,
yang sejak masa reformasi hingga saat ini yang terkesan terkotak-kotak,
kenangan indah tentang negara yang berkecukupan pun dapat kita jadikan
pelajaran, minimal sekarang apakah kita dengan segenap kemampuan yang
kita miliki mampu mencapai swasembada seperti dulu atau bila mungkin
melebihinya, atau justru menjadikan swasembada hanya sebagai
program-program yang menarik dari sisi politik semata.
Pak
Harto sudah tiada, masa-masa dimana Beliau memimpin negeri ini hanya
tinggal sejarah, namun bukan berarti kita harus melupakan sejarah karena
menganggap diri kita berada dalam masa kekinian, sejarah adalah
pelajaran berharga. Negeri ini tetap harus tegak berdiri, ratusan juta
rakyat dinegeri ini memerlukan pangan, dan kita yang memang mengaku
peduli pertanian, mempunyai tugas berat untuk melanjutkan cita-cita
menjadi bangsa makmur dan sejahtera.
Program-program
pembangunan pertanian menuju Indonesia yang makmur dan sejahtera memang
selalu diperbaiki. Program-program kearah swasembada (swasembada beras,
swasembada daging, swasembada daging, swasembada jagung, swasembada
kedelai) telah digulirkan, bahkan pertanian organik pernah didengungkan
pada masa Prof. Bungaran Saragih menjadi menteri pertanian, dengan
harapan pertanian Indonesia lebih lestari, ramah lingkungan, dan
produk-produknya bisa diterima di pasar internasional yang cenderung
menhendaki produk yang sehat, bebas pestisida dan pupuk kimia. Namun
dari kesemua program itu, hampir belum kelihatan hasilnya. Bagaimana
kita dapat membandingkan keberhasilan Pak Harto membawa Indonesia
menjadi negara sebagai bangsa yang berswasembada beras bila kita
sekarang terjebak kedalam keterpurukan berkepanjangan.
Kesimpulannya,
jangan jadikan program swasembada, apapun itu yang akan
diswasembadakan, hanya sebagai program-program dengan muatan politis
semata, tetapi buktikan dengan karya nyata dan pastikan masyarakat
menikmati hasilnya, baru kita membandingkan dengan keberhasilan
Indonesia berswasembada beras dimasa lalu, dengan begitu, kita juga tak
akan selalu terjebak dalam agenda menghujat pendahulu negeri ini, apapun
yang terjadi, tak ada manusia yang sempurna, termasuk Pak Harto, yang
penting saat ini,… ACTION!!.. wujudkan swasembada, jangan hanya
menghujat saja dan semoga keringat yang tercurah, manisnya buah yang
dipetik dengan keberhasilan swasembada akan mengingatkan kita akan arti
keberadaan Pak Harto dalam perjalanan bangsa ini.
Selamat Jalan Pak Harto.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar