Senin, 19 September 2011

Mengenang Sang Nasioanalis Indonesia Bpk HM Soeharto." Sektor Agraris dan Ketahanan Pangan Nasioanal".

Bulan Januari 2008, bangsa Indonesia kehilangan satu tokoh penting, seorang negarawan, seorang mantan presiden, juga seorang bapak bangsa yang berhasil membawa bangsa ini menjadi bangsa yang berswasembada beras. Banyak program-program pada masa pemerintahan Pak Harto yang difokuskan pada bidang pertanian dalam, tidak melulu beras, mulai pengembangan peternakan, perikanan, perkebunan, bahkan sampai kehutanan dengan program pekan penghijauannya. Luasnya bidang pertanian yang diperhatikan Pak Harto, tak membuat citra pertanian lantas hanya sekedar retorika belaka, Disamping mencapai swasembada, untuk menjamin keberlangsungan swasembada beras di Indonesia, pada masa pemerintahan Pak Harto juga dikembangkan institusi-institusi yang mendukung pertanian, mulai dari koperasi yang melayani kebutuhan pokok petani dalam usaha agribisnisnya, Bulog yang menampung hasil dari petani, institusi penelitian seperti BPTP yang berkembang untuk menghasilkan inovasi untuk pengembangan pertanian yang pada masa suharto salah satu produknya yang cukup terkenal adalah Varietas Unggul Tahan Wereng (VUTW), hingga berbagai bentuk kerjasama antar lembaga yang terkait penyediaan sarana prasaran yang mendukung pertanian seperti irigasi dan pembangunan pabrik pupuk.
Kini, Pak Harto sudah kembali ke Haribaan Ilahi, walau sempat dicerca, dihujat diakhir masa jabatannya, akan tetapi kita juga turut mewarisi apa yang pernah dilakukan oleh Pak Harto, mulai dari infrastruktur yang kita gunakan sampai saat ini yang kebanyakan dibangun pada masa Pak Harto, pendidikan murah yang pernah kita nikmati pada masa lalu, sampai pangan yang melimpah yang pernah kita nikmati, kita sadari atau tidak itu telah mengalir ke dalam darah kita turut menjadikan tubuh kita tetap ada sampai saat ini. Walau Pak Harto sudah tidak ada, banyak hal postitif yang dapat kita pelajari, mulai dari keterpaduan kebijakan, yang sejak masa reformasi hingga saat ini yang terkesan terkotak-kotak, kenangan indah tentang negara yang berkecukupan pun dapat kita jadikan pelajaran, minimal sekarang apakah kita dengan segenap kemampuan yang kita miliki mampu mencapai swasembada seperti dulu atau bila mungkin melebihinya, atau justru menjadikan swasembada hanya sebagai program-program yang menarik dari sisi politik semata.
Pak Harto sudah tiada, masa-masa dimana Beliau memimpin negeri ini hanya tinggal sejarah, namun bukan berarti kita harus melupakan sejarah karena menganggap diri kita berada dalam masa kekinian, sejarah adalah pelajaran berharga. Negeri ini tetap harus tegak berdiri, ratusan juta rakyat dinegeri ini memerlukan pangan, dan kita yang memang mengaku peduli pertanian, mempunyai tugas berat untuk melanjutkan cita-cita menjadi bangsa makmur dan sejahtera.
Program-program pembangunan pertanian menuju Indonesia yang makmur dan sejahtera memang selalu diperbaiki. Program-program kearah swasembada (swasembada beras, swasembada daging, swasembada daging, swasembada jagung, swasembada kedelai) telah digulirkan, bahkan pertanian organik pernah didengungkan pada masa Prof. Bungaran Saragih menjadi menteri pertanian, dengan harapan pertanian Indonesia lebih lestari, ramah lingkungan, dan produk-produknya bisa diterima di pasar internasional yang cenderung menhendaki produk yang sehat, bebas pestisida dan pupuk kimia. Namun dari kesemua program itu, hampir belum kelihatan hasilnya. Bagaimana kita dapat membandingkan keberhasilan Pak Harto membawa Indonesia menjadi negara sebagai bangsa yang berswasembada beras bila kita sekarang terjebak kedalam keterpurukan berkepanjangan.
Kesimpulannya, jangan jadikan program swasembada, apapun itu yang akan diswasembadakan, hanya sebagai program-program dengan muatan politis semata, tetapi buktikan dengan karya nyata dan pastikan masyarakat menikmati hasilnya, baru kita membandingkan dengan keberhasilan Indonesia berswasembada beras dimasa lalu, dengan begitu, kita juga tak akan selalu terjebak dalam agenda menghujat pendahulu negeri ini, apapun yang terjadi, tak ada manusia yang sempurna, termasuk Pak Harto, yang penting saat ini,… ACTION!!.. wujudkan swasembada, jangan hanya menghujat saja dan semoga keringat yang tercurah, manisnya buah yang dipetik dengan keberhasilan swasembada akan mengingatkan kita akan arti keberadaan Pak Harto dalam perjalanan bangsa ini.
Selamat Jalan Pak Harto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar